Peran L-Ornithine L–Aspartate dan Asam Amino Rantai Cabang pada Ensefalopati dan Status Nutrisi dalam Sirosis Hati dengan Malnutrisi

Peran L-Ornithine L–Aspartate dan Asam Amino Rantai Cabang pada Ensefalopati dan Status Nutrisi dalam Sirosis Hati dengan Malnutrisi

Suzanna Ndraha, Irsan Hasan, Marcellus Simadibrata

Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia

Abstrak

Latar Belakang. Penatalaksanaan ensefalopati hepatik termasuk ensefalopati hepatik minimal (EHM) terutama ditujukan untuk menurunkan kadar amonia darah, antara lain dengan pembatasan asupan protein. Namun, pembatasan asupan protein ini akan memperburuk status gizi pada penderita sirosis hati, sedangkan malnutrisi sendiri juga memperburuk prognosis sirosis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian L-ornitin-L-aspartat (LOLA)  bersama perbaikan gizi dan substitusi asam amino rantai cabang (AARC),  terhadap ensefalopati pada sirosis hati dengan malnutrisi

Metoda. Pasien sirosis hati yang berkunjung ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo di bulan Juni-Oktober 2009 didata. Dilakukan tes critical flicker frequency (CFF), dan bila hasil<39Hz dinyatakan ensefalopati.  Status nutrisi ditentukan dengan mengukur mid-arm muscle circumference (MAMC), dan dinyatakan malnutrisi bila di bawah persentil ke 15. Semua yang memenuhi kriteria inklusi diberi edukasi diet 35-40 kcal/kgBB dan 1,5 g protein/kgBB dengan substitusi BCAA. Selanjutnya dilakukan randomisasi untuk pembagian menjadi 2 kelompok.  Salah satu kelompok akan mendapat LOLA granules 3 x 6 g/hari. Setelah 2 minggu, tes CFF  dan prealbumin diperiksa lagi. Analisis statistik yang digunakan untuk uji klinik tersamar ganda ini adalah independent student t test

Hasil. .Didapatkan 34 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, dan dengan randomisasi 17 subjek dimasukkan ke dalam kelompok A (mendapat LOLA) dan 17 lainnya ke dalam kelompok B (tidak mendapat LOLA). Analisis statistik mendapatkan hasil perbedaan yang bermakna(p=0,016) dari peningkatan tes CFF pada kelompok A (2.41±1.6 Hz) dibanding dengan kelompok B (0.67±2.3 Hz). Namun tidak didapatkan perbedaan bermakna dari peningkatan prealbumin di kedua kelompok (1±1.3 mg/dL vs 1.2±1.4 mg/dL, (p=0,59). Peningkatan ureum dan kreatinin setelah perlakuan selama 2 minggu tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok (4±0.5 mg/dL vs 9.3±1.3 mg/dL, (p=0.4) untuk ureum, -0.1 (0.1) mg/dL vs 0.1±0.1 mg/dL, (p=0.3) untuk kreatinin

Kesimpulan. EHM dengan malnutrisi dapat diberikan diet 35-40 kcal/kgBB dan 1,5 g protein/kgBB dengan substitusi BCAA untuk meningkatkan status nutrisi, sedangkan LOLA granules dapat diberikan untuk memperbaiki ensefalopati

 

Kata Kunci: Ensefalopati hepatik minimal, malnutrisi, CFF, LOLA, prealbumin, AARC

Untuk melihat Full text, silahkan hubungi kami